SketsaIndonesia.com, Jakarta

Entah sudah berapa puluh purnama saya tidak melangkahkan kaki ke kawasan Pecinan Jakarta. Siang beberapa waktu lalu, akhirnya saya menjejakkan kaki lagi ke sana. Saya tidak sendirian. Bersama dua rekan, dengan mantab kami tahu ke mana harus mengawali perjalanan. Masih ingat Gado-Gado Direksi? Atau malah kurang update? Nah, tempat ini mengawali come back-nya saya blusukan ke Pecinan Jakarta.

Di awal tahun 2000 kedai ini berada persis di belakang pertokoan legendaris Gloria, yang kini sedang berganti rupa menjadi mal dan apartemen Pancoran Chinatown Point, kemudian pindah ke seberang di dalam bilik sederhana dan sempit lantas kini harus berpindah tempat lagi ke semacam kantin yang ada di sebelahnya, bersama dengan pedagang makanan dan minuman lainnya.

Apa yang bikin kangen dari gado-gado ini tak lain adalah bumbu kacang serta kerupuk udang dan emping. Sudah barang tentu, suasana Pecinan di Kota Tua Jakarta ini juga menjadi daya tarik yang lain. Sampai di tkp, kami masih disambut hangat dengan teman-teman pedagang di sini, Termasuk Giok Lie si empunya kedai gado-gado.

O ya saya hanya ingin mengingatkan, kedai ini sudah ada sejak setengah abad lalu. Dimulai oleh Shinta Devi, Ibunda Giok Lie, hingga sekarang diturunkan kepada
putrinya itu.

Perihal nama kedainya, Giok pernah menceritakan, nama itu semula didapat karena julukan saja. Sebab di masa awal booming bank, pelanggan kedai gado-gado ini kebanyakan petinggi bank. “Para direksi,gitulah,” tegasnya. Jadilah kedai ini bernama Gado-Gado Direksi.

Tak lama setelah berbincang, langsung saja tangan Ati “menari”. Bukan menari dalam arti sebenarnya, tapi menari di atas ulekan. Mengulek kacang asal Tuban, Jawa Timur, yang jadi kekhasan bumbu gado-gado ini. Ati tak lain adalah si pengulek bumbu gado-gado.

Sepuluh menit berlalu, makanan itu segera terhidang di atas meja. Tak beda dengan gado-gado yang lain, gado-gado ini juga berisi sayuran, taoge, tahu,labu, dll tapi yang membedakan adalah gado-gado ini diguyur dengan bumbu kacang yang lembut dan ditutup dengan kerupuk udang dan emping.

Mmmmmm…Begitu sampai di lidah, semua rasa menyatu lembut, manis, gurih dengan aroma jeruk limau yang segar. Bahkan setelah sekian lama saya absen mencecap gado-gado ini, rasa berani dari bumbu kacang yang diulek sampai lembut, tetap bertahan. Jika satu porsi gado-gado lontong terasa kurang nendang, mungkin masih kuat untuk tambah ayam goreng kuning gurih.

Setelah itu digelontor dengan muntahay, minuman sejenis cincau. Ini adalah minuman untuk meredam panas dalam, tapi bisa diminum dalam kondisi apa saja. Lebih segar dengan es batu. Muntahay adalah buah dari China. Buahnya mirip buah kana yang biasa untuk manisan. Setelah direndam dengan air panas, barulah bisa digunakan.

Hampir lupa, mau cemilan, di sini juga ada yang khas. Lumpia isi tahu kuning, bengkuang dan taoge yang dicocol samble kacang juga jadi andalan di tempat ini.

Soal harga, semua masih masuk akal. Untuk sepiring gado-gado dengan lontong seharga Rp 35.000 sedangkan dengan nasi, bayarlah sebesar Rp 37.000. Ayam goreng kuning sepotong Rp 23.000 sedangkan satu lumpia dipatok Rp 5.000.

Yang penasaran belum pernah mencicip gado-gado ini atau yang kangen gado-gado ini, silakan saja meluncur ke Jalan Pintu Besar Selatan II. Dari arah Harmoni terus saja sampai bertemu Harco Glodok lantas belok ke kiri. Mudahnya, cari saja Gang Gloria di lantas jalan saja terus sampai mentok. Pokoknya berhadapan dengan Toko Kawi. Gado-Gado Direksi buka mulai pk 09.30 sampai dengan pk 16.30.

Sebelum saya meninggalkan kedai ini, Giok Lie sempat bercerita bahwa dalam waktu dekat, kedai ini akan pindah ke dalam mal baru, Pancoran Chinatown Point.

Di dalam nanti, tentu harga makanan menjadi lebih mahal. “Makanya sebelum kita pindah ke mal, sering-sering aja ke sini,” canda Giok Lie. Bukan hanya harga yang berbeda, suasana tentu juga jadi beda.