SketsaIndonesia.com, Jakarta

Apa yang muncul di benak orang jika mendengar nama Ancol? Pasti ada banyak versi. Misal saja, Ancol adalah kompleks hiburan, Ancol adalah pantai, Seaworld, Ancol bisa berarti Dunia Fantasi (Dufan), Binaria, Eco Park-Eco Farm, Pasar Seni dan masih sederet lainnya. Tentu makna Ancol akan berbeda bagi generasi yang berbeda. Buat saya, setidaknya selama beberapa tahun terakhir ini, Ancol adalah juga mal di pinggir pantai.

Ya, Ancol Beach City namanya. Sebuah mal besar yang berdiri persis di bibir pantai. Di sore menjelang petang, pengunjung tak hanya disuguhi pemandangan pantai saat matahari tenggelam tapi juga music hidup. Tak perlu ke mal-nya jika tak ingin, cukup bermain di pantai yang jadi halaman mal. Begitu lapar, mungkin bisa beranjak mencari pengisi perut di dalam mal atau duduk-duduk di luar mal dan mendekati pantai.

Sebelum menjadi seperti sekarang ini, Ancol punya kisah panjang dari tempat makmur hingga jadi tempat garong. Adolf Heuken dalam “Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta” menyebutkan sekilas tentang kondisi Ancol di abad 17 dan 18 di mana kawasan itu sudah menjadi kawasan elit dengan rumah orang kaya, bangsawan, pejabat kumpeni sampai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang dilengkapi kebun nan luas sebelum akhirnya ditinggalkan karena seluruh kawasan terjangkit wabah malaria.

Kelenteng yang ada di Ancol pun disebut-sebut sudah ada sejak tahun 1674 (abad 17) dan pada 1738 (abad 18). Oey Tambasia,  juragan muda Tionghoa juga disebut-sebut membangun rumah pelesir Bintang Mas di Ancol.

Dalam buku itu Heuken juga menyertakan kisah tentang budak perempuan yang bekerja di rumah pejabat kumpeni di abad 18.  Namanya Roseta, usia 16 tahun asal Bali bekerja pada ambtenaar van der Ploeg. Kisah itu banyak menggambarkan latarbelakang kondisi Ancol, seperti begini, “Pada masa itu daerah Ancol penuh rumah peristirahatan orang kaya. Rumah van der Ploeg termasuk yang paling bagus, berlantai dua dengan serambi luas. Di bagian atas terdapat empat kamar tidur untuk keluarga…”

Sementara itu dalam buku “Jejak Soekardjo Hardjosoewirjo di Taman Impian Jaya Ancol” dikisahkan, sejak abad 17 Ancol sudah menjadi kawasan wisata dengan rumah peristirahatan kaum elite Belanda termasuk Gubernur Jenderal Hindia Belanda Adriaan Valckenier. Sebagai catatan saja, Valckenier berkuasa 1737-1741. Ia terlibat dalam kerusuhan Tionghoa 1740 dan meninggal dalam tahanan di Batavia.

Ancol dipilih sebagai tempat peristirahatan karena pantainya yang indah dan bersih serta letaknya yang relatif dekat
dengan pusat kota. Tentu saja, kawasan di sekitarnya masih berupa rawa, hutan dan semak. Hingga pada satu titik Ancol ditinggalkan karena wabah malaria.

Pada masa perjuangan dan awal kemerdekaan, Ancol menjadi daerah terlupakan. Sungai Ciliwung bebas mengendapkan lumpur di muaranya dan mengubah Ancol menjadi kawasan telantar dan sumber penyakit. Kawasan itu pun jadi menyeramkan, istilahnya tempat jin buang anak. Kawasan tukang begal.

Tak mengherankan karena kawasan itu kemudian penuh semak dan rawa yang tak tersentuh manusia. Permukiman liar nelayan hanya ada di Muara Kali Bintang Mas. Di kawasan itu hanya ada dua bangunan bersejarah, dari abad 16-17 tak lain adalah Kelenteng Ancol. Satu lagi adalah kuburan Belanda.

Di masa itu, masa kemerdekaan hingga Ancol menjadi taman hiburan, warga Jakarta termasuk warga bule mengenal Pantai Cilincing dan Tanjungpriok yang kemudian juga berubah tak menarik karena kumuh dan kotor. Tanjungpriok bahkan kemudian beralih menjadi kawasan peti kemas. Di Tanjungpriok ada tempat wisata beken, selain Jacht Club, mungkin banyak yang belum tahu bahwa di awal abad 20 ada tempat pemandian atau semacam kolam renang bernama Petit Trouville.

Kembali ke Ancol, beberapa koran terbitan lama koleksi Koninklijke Bibliotheek menyebutkan soal Ancol yang jadi biang rampok dan garong. Sebut saja “Bataviaasch Nieuwsblad” edisi 12 Oktober 1917 menurunkan berita berjudul “Rampok Op Antjol”.  Berita kecil ini mengabarkan bahwa pada 10 Oktober pada sekitar pukul 8 malam terjadi perampokan terhadap seorang yang tak dikenal di dekat Pantai Antjol.

Pada berita lain dalam koran yang sama terbitan 12 Mei 1923 terhampar berita soal penangkapan tiga orang Tionghoa yang menyelundupkan enam kaleng opium lawas di pos Antjol. Mereka tertangkap polisi Priok begitu turun dari kapal Tambora.

Koran “Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie” terbitan 26 April 1920 memuat kisah usaha penjarahan oleh sekelompok orang yang membawa golok. Mereka menyasar sebuah rumah di persawahan belakang Antjol. Kejadian di malam Minggu itu akhirnya dapat diamankan setelah salah satu penjahat tertangkap oleh warga setempat. Diceritakan, terjadi perlawanan antara warga dan perampok sehingga ada yang terluka.

Selain masalah perampokan, koran yang sama pada edisi 29 Juli 1935 melaporkan bahwa telah ditemukan bayi di dalam saluran Antjol tak jauh dari Kampong Bandan. Bayi yang baru dilahirkan itu tak diketahui siapa ibunya.

Selain persoalan kriminal, pada 9 Februari 1903 “De Locomotief “ mengabarkan jalur kereta api Antjol-Tanah Abang sedang dibangun dan akan siap dalam lima bulan. Sayangnya kini jalur itu sudah lama menjadi jalur mati.

Kini kawasan Ancol di mana kuburan Belanda berada menjadi taman hiburan nan luas dan moderen. Meski demikian, kita masih bisa melihat pemandangan yang jomplang ketika memandang kanal di depan Ancol yang kondisinya hitam legam dan bau. Kawasan itu, meski juga dihuni perumahan super mewah, berada dalam lingkungan yang terlihat jorok. Kesan tak aman tetap saja menempel hingga sekarang.