SketsaIndonesia.com, Jakarta

“Mungkin banyak orang tidak tahu bahwa nama lama dari Taman Suropati yang berada di depan gedung Bappenas itu sebenarnya bernama Taman Burgemeester Bisschopplein,” demikian sepotong kalimat yang menjadi pembuka tulisan “Kenang-kenangan dari Mr GJ Bisschop” dalam buku “Jakarta Punya Cerita” yang ditulis Zeffry Alkatiri.

GJ Bisschop tak lain adalah Wali Kota (Burgemeester) Batavia pertama (1916). Sebelum ada Bisschop, urusan di
Batavia masih diurus Gemeenteraad, yaitu perwakilan dari Pemerintah Hindia Belanda.

“De Indische Courant” edisi 19 April 1933 menyebutkan, Bisschop tiba di Jawa tahun 1906 sebagai pejabat perantara
di sekretariat umum Buitenzorg (Bogor) dan kemudian menjabat sekretaris di Departemen Keuangan (Departement van Financiën) di Batavia. Pada tahun 1916-1920 ia menjabat sebagai Wali Kota Batavia sebelum akhirnya kembali ke Belanda sebagai pejabat di Departemen Koloni-koloni (Departement van Koloniën) di Den Haag.

Nama Bisschop, yang wafat pada 1939 di Den Haag, kemudian dipakai sebagai nama taman di Menteng – Burgemeester Bisschopplein yang kemudian hari menjadi Taman Surapati. Penamaan taman dengan namanya tak lain adalah untuk mengenang hasil karya Bisschop selama menjadi Wali Kota Batavia.

Dalam “Bataviaasch Nieuwsblad” cetakan 11 Maret 1939 dikatakan, selama Bisschop memimpin Batavia ada banyak
gebrakan yang ia lakukan demi membangun Batavia yang lebih baik. Sarana prasarana Kota Batavia ia genjot seperti misalnya, membangun sekolah pemerintah yang pertama, menambah jalur trem, membuat sistem registrasi catatan kependudukan bagi warga Eropa di Batavia, membuat keputusan untuk membangun saluran air ledeng serta membeli lahan yang luas dari pihak swasta di Petodjo untuk mengembangkan kota.

Sementara “De Sumatra Post” edisi 11 Maret 1939 yang menulis obituari Bisschop menyebutkan, peran Bisschop di
Batavia selain yang sudah disebutkan di atas adalah memperbaiki jalur transportasi umum, membuat pasar lebih terorganisir serta sistem keuangan di pemerintahan juga diperbaiki. Bisschop tak hanya membeli lahan di Petodjo tapi juga di Laanhof dan Djagal-Tanah Njonja.

Sebuah berita kecil di “Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie” 20 November 1919 menyatakan, Bisschop
memberi air sumur artesis gratis kepada RS Carolus (resmi digunakan pada Januari 1919) dan RS Cikini (berdiri tahun 1898 sebagai RS Ratu Emma kemudian berubah menjadi RS Tjikini pada 1 Agustus 1913).

Sementara itu, “Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indie” edisi 21 Oktober 1931 koleksi Koninklijke Bibliotheek membahas soal kawasan Burgemeester Biscchopplein di Nieuw Menteng yang akan segera mengalami perubahan besar. Perubahan bukan pada taman tetapi pada jalan dan kawasan itu sendiri. Taman itu sendiri mulai diperbaiki dan diaspal tahun 1928, sementara pepohonan juga sudah mulai kelihatan tumbuh sehingga
penampakan sebagai taman sudah makin jelas. Sebelumnya hanya terisi dan kerikil dan rumput.

Dikatakan dalam koran itu bahwa Menteng Boulevard akan diperluas hingga ke Griseeweg (kini Jl Sutan Syahrir).
Di Menteng Boulevard itu sudah berdiri bangunan besar nan mewah milik tuan s’ Jacob yang kemudian menjadi kantor perkumpulan Freemason (Vrijmetselaar). Tuan s’ Jacob pernah menjabat sebagai kepala kamar dagang di Indonesia. Freemason adalah sebuah perkumpulan persaudaraan internasional dan pernah ada di Batavia sekitar abad 18 – abad 20.

Koran itu juga menjelaskan dengan menggunakan peta sederhana, bahwa di pojok seberang Burgemeester Bisschopplein yang juga di seberang rumah s’ Jacob akan dibangun gereja (kini GPIB Paulus). Sedangkan di sebelah lahan yang akan menjadi gereja, merupakan lahan luas yang akan dijadikan Kantor Konsulat Jenderal Inggris.

Di Menteng Boulevard itu juga disebutkan akan ada rencana membuat kavling perumahan. Selain itu, koran tersebut juga mengatakan bahwa bangunan mewah milik s’ Jacob sebenarnya dulu dimaksudkan sebagai kantor balai kota. Bangunan megah tersebut sangat mendominasi dan menonjol di kawasan Burgemeester Bisschopplein.

Dalam “De Indische Courant” disebutkan, perkumpulan Freemason membeli rumah milik s’ Jacob dan merenovasi bangunan lama milik s’ Jacob itu. Freemason menunjuk biro arsitek Algemeen Ingenieurs en Architecten Bureau (AIA). Desain gedung tersebut memperlihatkan, bahwa gedung itu akan dibikin bertingkat dengan tampak depan yang juga berubah. Gedung itu akhirnya dibangun pada 1925. Tentu di atas puing-puing bangunan lama yang sudah ada sejak akhir abad 19.

Di kemudian hari bangunan itu menjadi kantor Bappenas dan sudah terimpit oleh bangunan baru lainnya sehingga
kemegahan bangunan itu tak lagi menonjol. Pemandangan dari Taman Surapati, yang masih menjadi tempat warga berkegiatan, tak lagi terpusat hanya pada gedung Bappenas.