SketsaIndonesia.com, Jakarta

 

Jika kebetulan melintas di kawasan Juanda, Pasar Baru atau Lapangan Banteng, maka kita akan bertemu dengan Gereja Katedral dan Masjid Istiqlal yang berhadapan. Pemandangan ini berbeda dengan pemandangan di abad 19 di mana Katedral berhadapan dengan taman nan luas dan asri. Nama taman itu Wilhelminapark (Taman Wilhelmina). Taman tersebut dulu memang diberi nama sesuai dengan nama Ratu Wilhelmina, yang baru naik tahta.

Tahun 1890, Wilhelmina ditahbiskan sebagai Ratu Belanda, untuk memperingati hal itu, maka di lahan yang sekarang menjadi lahan Masjid Istiqlal, dibikinlah taman modern terbesar di Batavia bahkan, konon, Asia dan dinamakan sesuai dengan nama sang ratu. Setelah kemerdekaan, nama taman ini menjadi Taman Wijayakusuma.

Sebelumnya, lahan ini memang merupakan hutan kota nan luas. Penghargaan terhadap Wilhelmina membuat hutan kota ini kemudian dibikin makin menawan sehingga warga kota bisa piknik dan menikmati Wilhelminapark. Keindahan taman ditambah dengan keberadaan Sungai Ciliwung yang mengalir membelah taman tersebut.
Tak hanya beken karena keelokannya, taman ini banyak dikunjungi warga karena di tengah-tengah rimbunan pohon di dalam taman itu berdiri sebuah benteng pertahanan yang digagas Gubernur Jenderal Van den Bosch, si arsitek pertahanan.

Sistem pertahanan diberi nama sesuai dengan namanya, Defensielijn Van den Bosch. Di Batavia, defensielijn (garis pertahanan) itu terbentang dari belakang Stasiun Senen (Jalan Bungur Besar), memanjang dari ujung Selatan ke Utara. Di ujung Utara, defensielijn membelah ke arah Barat melintasi Sawah Besar, Krekot, Gang Ketapang dan di Petojo, garis pertahanan ini memanjang hingga Monas. Defensielijn tak lantas berhenti di Monas.

Garis pertahanan ini berlanjut ke Tanah Abang, masuk ke Kebon Sirih hingga jembatan Prapatan dan Kramat Bunder. Garis pertahanan nan panjang itu berhubungan dengan Benteng (Citadel) Frederik Hendrik yang dibangun di tengah-tengah Wilhelminapark. Di atas benteng ini dipasang lonceng besar. Lonceng itu, menurut buku “Jakarta Tempo Doeloe”, tak lain adalah milik toko arloji milik orang Belanda di Rijswijk (Jalan Veteran). “Van Arcken”, demikian nama toko itu. Siang dan malam tentara menjaga benteng ini.

Dalam sebuah artikel panjang di “Bataviaasch Nieuwsblad” edisi akhir Maret 1936 dikisahkan, Benteng (Citadel) Prins Frederik Hendrik – kemudian lebih terkenal dengan Citadel Frederik Hendrik – yang ada di tengah Taman Wilhelmina dibangun di atas tanah bekas bangunan Buiten-Hospitaal (rumah sakit di luar tembok Batavia). Rumah Sakit ini dulu menjadi tempat rehabilitasi orang-orang yang pernah dirawat di Binnen-Hospitaal (rumah sakit di dalam tembok Batavia). Keberadaan rumah sakit tersebut sudah ada sejak sekitar pertengahan tahun 1700 dan bertahan hingga tahun 1820. Pemerintah Batavia kemudian membeli lahan rumah sakit itu pada 1820 untuk kemudian membangun benteng dengan biaya 430 ribu gulden.

Benteng ini dibangun pada 1827, peletakan batu pertama dilakukan sendiri oleh Prins Hendrik Willem Frederik anak ketiga dari Prins Oranje (yang kemudian menjadi Raja Willem II) pada 31 Agustus. Ketika itu Prins Hendrik sedang keliling dunia lantas mampir di Batavia. Menurut surat kabar itu, ketika itu banyak orang Batavia yang tidak tahu isi dalam benteng karena dijaga ketat. Untuk bisa masuk ke dalam diperlukan izin khusus. Koran ini juga menyebutkan, banyak pihak kecewa terhadap benteng yang dinyatakan sebagai benteng yang gagal. “Pembangunan benteng itu hanya menghamburkan uang,” demikian tulis “Bataviaasch Nieuwsblad”.

Bangunan besar yang semula berfungsi sebagai benteng ini kemudian berubah menjadi gudang senjata untuk kemudian berubah lagi menjadi tempat latihan menembak. Sementara itu, di usia satu abad citadel, tak ada yang ingat bahwa benteng itu dibangun sebagai pertahanan. Di sore hari dan hari libur di sekeliling citadel jadi tempat anak-anak bermain.Boleh jadi tak banyak pula yang tahu bahwa pemerintah Kota Batavia sempat berpikir untuk membangun balai kota di bekas benteng tersebut.

Koran “Het Vaderland” terbitan 15 Desember 1938 menyebutkan, “Batavia Genootschap van Kunsten en Wettenschappen (Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan Batavia) mendesak pemerintah Batavia untuk mempertahankan citadel karena bangunan itu penting dalam sejarah Batavia. Balai kota di Wilhelminapark yang juga akan mengambil lahan bekas benteng, batal dibangun.

Selama tahun 1950, Wilhelminapark dalam kondisi telantar, sepi, gelap, kotor. Tembok bekas benteng dibiarkan berlumut dengan rumput ilalang di mana-mana dan akhirnya dirobohkan.

Setelah Bung Karno menetapkan lokasi untuk pembangunan masjid yaitu di Taman Wilhelmina atau persisnya di atas reruntuhan benteng, maka pada 1960 taman tersebut dibersihkan. Setahun kemudian, masjid yang kita kenal sebagai Masjid Istiqlal pun mulai dibangun. Maka, setelah sebelumnya rumah sakit kemudian berubah menjadi benteng, terakhir, Masjid Istiqlal hadir mengganti reruntuhan benteng dan taman.

Tak jauh dari Wilhelminapark, serta Benteng Frederik, terbentang dua jalan yang di abad 19 menjadi kawasan elit bagi penduduk Eropa, khususnya Belanda, yaitu Rijswijk (Jalan Veteran) dan Noordwijk (Jalan Juanda). Di sepanjang jalan ini bertumbuhan bisnis orang Eropa seperti hotel, restoran, toko kue, toko arloji dll. Di ujung jalan di mana terdapat hotel legendaris Hotel Sriwijaya – yang sudah dimulai oleh CAW Cavadino pada 1863 sebagai restoran dan toko kue – terdapat jalan bercabang di mana jalan ini berada tak jauh dari taman. Nama jalan itu Citadelweg, sebuah jalan menuju Benteng (Citadel) Frederik Hendrik di Taman Wilhelmina. Kini, nama Citadelweg menjadi Jalan Veteran, Jakarta Pusat.