Batik Belanda, Batik Produksi Pengusaha Indo-Eropa

SketsaIndonesia.com, Jakarta

Pembukaan Terusan Suez pada 1869 berdampak pada peningkatan dalam permintaan produk batik bercorak Eropa. Ini terjadi karena populasi bangsa Eropa di Hindia Belanda bertambah dua kali lipat dalam kurun waktu 1870 – 1880 dari 30.000 jiwa menjadi 60.000 jiwa. Dari jumlah itu, ada hampir 17.000 perempuan Eropa lahir di Hindia Belanda. Jumlah perempuan Eropa kelahiran Hindia Belanda itulah yang kemudian berpengaruh kuat pada perkembangan desain “batik
belanda”. Lantas apa itu batik belanda?

Batik belanda sebenarnya hanya sebuah sebutan bagi koleksi batik yang diproduksi oleh industri batik milik perempuan pengusaha Indo-Eropa. Motif batik Eropa tentu bisa langsung dikenali dari pola serta motif Eropa. Mereka memproduksi batik untuk tujuan komersial, tidak seperti batik karya perempuan Jawa yang membuat batik di rumah dan untuk keperluan sendiri.

Adalah Carolina Josephina Von Franquemont, perempuan yang pertama kali menjadi pengusaha batik pada 1840. Ia memulai usaha di Surabaya. Lima tahun kemudian, Von Franquemont pindah ke Semarang dan membuka usaha batik di Ungaran. Semarang kala itu merupakan kota dagang yang kaya. Di kota itu pula tersebar pembatik berpengalaman. Von Franquemont membaca “pasar”, ia menyasar nyonya-nyonya setengah Eropa dan asli Eropa serta perempuan Tionghoa, demikian ditulis pakar batik belanda Rouffaer yang dikutip Harmen C Veldhuisen dalam buku “Batik Belanda 1840 – 1940 – Pengaruh Belanda pada batik dari Jawa, Sejarah dan Kisah-kisah di Sekitarnya.”

Ciri khas batik Von Franquemont ini adalah beragam warna dengan motif hias Eropa, contoh-contoh dari Tionghoa dan pola-pola Pesisir Utara seperti Madura. Motif Eropa ia dapatkan dari majalah mode bergambar asal Belanda. Desain Von Franquemont ini ternyata kemudian banyak ditiru perempuan lain yang membuka usaha batik.

Desain yang paling sering ditiru adalah desain batik dongeng. Ia mengambil figur dan atribut dari berbagai dongeng Eropa yang ditampilkan berulang di seluruh badan. Misalnya, pada sarung yang bercorak puteri duyung, sementara untuk batik Jawa, ia mengganti corak dengan figur wayang. Von Franquemont juga mendesain sarung dengan dongeng Cina. Beberapa waktu lalu Erasmus Huis memamerkan batik belanda ini. Salah satu yang menjadi perhatian adalah batik dari akhir abad 19 yang berkisah tentang gadis bertudung merah (Roodkapje).

Pada 1920an, motif Roodkapje banyak dicari pedagang Arab dari Batavia yang berkunjung ke Pekalongan naik kereta api. Desain batik milik Von Franquemont, atau biasa dilafalkan sebagai batik Prankemon, kemudian banyak ditiru oleh pengusaha lain. Ia tak hanya mengambil pola dari dongeng tapi juga wayang, perang, teater bahkan puisi sebagai variasi.

Sayang, pada 1867, Gunung Ungaran meletus dan tak hanya melenyapkan usaha batik Von Franquemont tapi juga melenyapkan si pengusaha. Usaha batik perempuan Indo-Eropa berpindah di Banyumas dengan motif batik bercorak Eropa seperti dewa asmara, malaikat, buah anggur dan satwa.

Batik milik pengusaha bernama Catharina Carolina Van Oosterom ini di Jawa biasa disebut batik Panastroman. Pada masanya, pertengahan abad 19, batik ini juga beken di kawasan barat Pulau Jawa. Sayang, batik-batik ini kini kebanyakan tersimpan di museum di Eropa, seperti Belanda dan Inggris. Padahal motif batik tersebut juga merupakan bagian dari perjalanan sejarah perkembangan tekstil di Indonesia.

Motif batik sejenis batik belanda atau batik eropa ini beberapa tahun lalu bisa ditemukan di pusat batik Thamrin City, Tanah Abang, Jakarta. Kala itu motif serdadu Belanda, motif kompeni, motif perang, petani, kehidupan masyarakat desa di Jawa atau di Cina mudah ditemukan hanya saja dengan warna yang tak sebenderang batik belanda yang didesain oleh perempuan-perempuan Indo-Eropa. Termasuk kemudian muncul motif Ondel-ondel yang mencirikan Jakarta.

« »

© 2017 Sketsa Indonesia. Theme by Anders Norén - customized by Sketsa Indonesia.