Toulouse, Teras Indonesia

DI kota ini, masa lampau dan masa kini bisa harmonis. Bangunan tua berarsitektur Romawi, air mancur, dan patung kuno terawat dengan baik di tengah kota yang tumbuh menjadi basis industri penerbangan Eropa. Inilah Toulouse! Kota di Perancis selatan yang berjuluk ”Kota Merah Muda”.

Harmoni itu tampak di luar jendela bus dalam perjalanan dari Bandara Blagnac menuju hotel di Jalan Jean Jaures, Rabu (19/12/2012). Setelah gedung-gedung modern di kawasan Blagnac, markas pabrik pesawat Airbus, panorama berganti dengan hadirnya bangunan tua di pusat kota yang didominasi bahan bata merah. Wajar jika kota ini beken dengan sebutan ”Pink City”.

Pemandangan di Donjon du Capitole, salah satu bangunan di jantung Toulouse yang dibangun tahun 1525, Rabu malam, juga menghadirkan harmoni lampau-kini. Di dinding bangunan tua yang bentuknya seperti istana negeri dongeng itu, laser diproyeksikan untuk menghasilkan gambar bercerita layaknya layar tancap. Bedanya, bangunan menyatu dengan isi cerita.

Orang-orang lalu lalang di antara penonton yang berdiri menyaksikan proyeksi visual. Sebagian memotret dengan kamera telepon genggam, duduk di bangku, dan mengobrol di bawah pohon dan di taman kota yang dibalut lampu hias.

Di sudut lain, dua ”patung” manusia menyedot perhatian pengunjung. Ada pula pentas-pentas kecil seperti paduan suara anak-anak, pentas tari, pantomim, dan permainan strategi yang menyemarakkan rangkaian acara akhir tahun.

Suhu udara malam itu 9 derajat Celsius, cukup dingin untuk orang Indonesia. Namun, pusat kota Toulouse terasa hangat dengan sorotan lampu ke arah bangunan, kerlap-kerlip hiasan Natal, pasar malam, deretan kafe, dan interaksi warga di ruang terbuka.

Pasar Natal

Kesempatan kami, rombongan wartawan dari Indonesia, Malaysia, Thailand, dan India yang diundang AirAsia ke Toulouse dalam rangka menjemput pesawat baru, hanya dua jam sebelum toko dan aktivitas berakhir. Oleh karena itu, Sarah, pemandu kami, menyarankan ke Place du Capitole untuk menikmati suasana kota dan pasar Natal yang digelar setahun sekali.

”Ada barang jatuh dari truk di pasar Natal,” kata Sarah menggambarkan harga barang yang relatif miring.

Tenda-tenda pedagang didirikan di tengah lapangan Place du Capitole. Ada bermacam-macam dagangan, seperti baju, celana, aneka olahan cokelat, roti, gula-gula, serta beragam pernak-pernik kerajinan tangan dan hasil industri kecil.

Harganya? Ada pakaian anak, jaket rajut, dan kaus yang ditawarkan dengan harga 10-45 euro atau sekitar Rp 127.000-Rp 571.500 (asumsi 1 euro > Rp 12.700). Ada pula aneka roti khas Perancis yang ditawarkan 2-9 euro, atau kerajinan fiber dan logam berbentuk patung yang dijual 5-100 euro.

Natal di Perancis adalah peristiwa menggembirakan yang dirayakan di kota dan desa. Dekorasi berkilau, makanan, konser, festival, parade, dan pasar yang tidak pernah ketinggalan. Pasar Natal digelar di banyak kota dan menjadi agenda rutin, seperti di Paris, Lille, Avignon, Bordeaux, dan Toulouse.

Capitole

Di Toulouse, pasar Natal digelar di Place du Capitole. Wali Kota Toulouse Pierre Cohen menyebut, Capitole bukan hanya balai kota, tempat anggota dewan bertemu untuk menjalankan kota bagi warganya, melainkan juga ruang bersama untuk seluruh rakyat.

Capitole adalah bangunan bersejarah. Dibangun bangsa Romawi untuk menyembah Dewa Jupiter, Juno, dan Minerva, Capitole saat ini adalah balaikota sekaligus ruang publik. Ornamen bangunannya kaya akan karya seni bernilai tinggi.

Sebagian struktur dan interior telah berubah, seperti fasad berstruktur bata merah dan gaya neoklasik adalah rancangan arsitek Guillaume Cammas yang dibangun tahun 1750-1760.

Di tengah lapangan, ada salib Languedoc yang menjadi lambang kota. Salib ini memiliki strip perunggu dengan 12 sudut di sisi luar, lambang jumlah bulan dan 12 zodiak. Sayang, saat kami datang, lambang itu tak terlihat utuh karena aktivitas pasar.

Sarah mengajak kami ke salah satu ruang Capitole, tempat lukisan-lukisan tua terpajang rapi. Ada karya Jean-Paul Gervais (1859-1936), Henri Martin (1860-1945), dan sejumlah pelukis Perancis yang kerap dijadikan latar acara seminar, resepsi pernikahan, atau simposium.

Rombongan tertegun melihat karya impresionis Henri Martin berjudul ”Les Reveurs (The Dreamers)” yang menggambarkan Jean Jaures, pemimpin sosialis Perancis, berjalan di tepian Sungai Garonne yang membelah kota. Suasana tempo dulu tampak hidup, alami, dan nyata. Dia juga melukis suasana empat musim (musim semi, panas, gugur, dan dingin) dalam karya yang lain.

Toulouse, ibu kota daerah Midi Pyrenees, berkembang sebagai salah satu kota yang pesat di Perancis. Kota ini terbesar keempat di Perancis setelah Paris, Marseille, dan Lyon. Keberadaan industri pesawat terbang Airbus, elektronik, dan perguruan tinggi membuat kota ini lebih hidup.

Tak puas rasanya hanya beberapa jam singgah di ”kota pink” ini. Namun, satu hal yang bisa dipelajari dari Toulouse, masa lalu bisa berjalan harmonis dengan masa kini.