Garut, Wisatakotatoea.com

Seorang kawan mengingatkan, kalau datang ke kota Garut jangan sampai tidak mencicipi soto khasnya yang melegenda, Soto H Achri. Soto dengan kuah santan ini sudah turun temurun dan berdiri sejak 1943. Tidak saja penjualnya yang menurunkan keahliannya, para pelanggannya pun juga turun temurun, dari kakek sampai cucu.

Untuk menemukan Soto Achri tidaklah terlalu sulit, dia berada di tengah pasar di Jalan Mandalagiri.  Namun lokasinya sendiri sebenarnya berada di ujung gang Harjo. Tidak terlalu besar tetapi justru para pelanggannya sangat suka makan di tempat itu. “Dulu kami pernah buka di tempat lain yang agak besar tempatnya tetapi pelanggan lebih suka ke sini. Akhirnya kami hanya buka warung disini saja,” ujar H Endang Achri (56).

Tempat tersebut, menurutnya sudah ada sejak ayahnya H Achri berjualan. Dan sampai sekarang pun tidak ada yang berubah. Dahulu di tempat itu adalah pasar untuk penjualan ayam potong. Lalu sekarang menjadi pasar campuran. Hanya tersedia dua meja panjang dan enam bangku kayu panjang.

Terkadang kalau sedang ramai, tidak jarang pula orang harus mengantri untuk  mendapatkan tempat.
Salah satu karakter soto Achri yang membuat pelanggan tetap setia adalah cita rasa dan aroma soto yang khas dari kuah santannya yang kuning. Serta dimasak diatas kayu bakar dan arang sehingga menghasilkan aroma yang khas. Sudah sangat jarang orang memasak makanan dengan kayu bakar dan arang.

“Malahan anak saya buka cabang di Buah Batu, Bandung, memasaknya sudah memakai bahan bakar gas. Meski rasa sama tapi aromanya yang berbeda,” ujar Achri sambil terus memotong motong daging sapi.                                                                                                                                                                                                                                  

Cita rasa yang khas dari kuah berasal dari rempah-rempah seperti jahe, kunyit, kemiri, merica, sereh dan salam. Rasa ini terus dijaga berdasarkan resep ayahnya dan sampai saat ini pun para pelanggan yang sudah lama tidak ada yang komplain dengan rasa sotonya.

Mata sapi
Tangan Achri pun dengan sigap selalu mencomot potongan daging dan jeroan dari  dalam panci yang berisi 100 liter kuah. Lalu potongan tersebut dicacah kecil-kecil, kecuali bagian mata sapi. Jeroan yang dipakai seperti kikil, lidah, tulang muda, babat dan mata sapi. Dengan tambahan iga dan bagian kepala sapi, totalnya mencapai 40 kg. Dan itu hanya untuk sekali jualan saja.

Mata sapi cukup besar, orang akan membeli satuan. Setelah membeli barulah si mata sapi tersebut dicacah-cacah. Ternyata para pelanggan soto Achri banyak yang suka dengan mata sapi tersebut. Mata sapi tersebut dijual dengan harga berkisar Rp 8.000-Rp 10.000 per buah. “Banyak pelanggan yang telepon dulu untuk menanyakan ketersediaan mata sapi. Mereka biasanya pesan, baru datang untuk makan disini,” kata Achri.

Untuk memasak soto dilakukannya sejak jam 03.00. Sebelumnya semua bahan harus dicuci bersih terlebih dahulu. Tetapi daging dan jerohan tersebut sudah direbus sejak siang hari. Jadi perebusan hari ini untuk keesokan harinya.

Jika kita makan daging dan jerohannya, akan sangat terasa bumbu. Karena pada saat perebusan itu, juga bersamaan dengan bumbu. Sehingga bumbu akan meresap bersama daging dan jerohan.
Untuk menghasilkan daging yang empuk harus direbus selama kurang lebih 5 jam dengan menggunakan kayu bakar. Lalu kalau sudah matang, untuk tetap mempertahankan panasnya kuah, maka panci diletakkan diatas anglo berisikan arang.

Untuk kuahnya yang bersantan, Achri mengaku menggunakan 10 butir kelapa untuk membuat santan encer. Dari tampilan dan rasanya, memang kuahnya tidak menggunakan santan yang kental, sehingga kesegaran dari kuahnya tetap terasa dan tidak eneg.

Soto ini bisa dipesan dengan dicampur nasi atau disajikan terpisah. Kalau dicampur nasi langsung ditaruh di piring dengan nasi dan sotonya, lalu ditambah dengan taburan kacang kedelai, bawang goreng dan daun bawang seledri.

Sebagai tambahan soto ini juga paling enak dimakan bersama kerupuk kulit atau dorokdok. Kriuk… atau langsung dimasukkan ke dalam kuah. Wah semakin mantab saja. Tidak terasa selama makan saya habis tiga bungkus kerupuk kulit yang dikemas dalam plastik kecil. Harganya Rp 2.000. Sedangkan seporsi soto tanpa nasi dihargai Rp 10.000 dan bila memesan soto campur Rp 12.000 per porsi.

Soto ini memang enak untuk sarapan dan makan siang. Hanya saja Achri hanya berdagang sejak pagi hingga tengah hari.  Jadi kalau Anda ke Garut, Jawa Barat, jangan lupa untuk mencicipi kuliner yang legendaris ini.

Soto Achri

Jl. Mandalagiri, gang Harjo
Ciwalen, Garut Kota
Buka: 06.30-12.00
Telepon: (0262) 234587