Rasa kebangkitan nasional yang muncul di abad ke-20 bangkit di Hindia Belanda (Indonesia) akibat ketertindasan akibat penjajahan menimbulkan berbagai pergolakan. Timbul perlawanan untuk membentuk negara modern. Yang tidak bisa dihindari adalah munculnya kelompok elite baru yang terdidik yang mendapat pendidikan barat tetapi tetap memelihara keterikatannya dengan masyarakat tradisional.

Hal ini akhirnya memunculkan organisasi baru pada tahun 1908 yaitu lahirnya Boedi Oetomo yang dipimpin oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Meski sebenarnya jauh sebelum dibentuknya Boedi Oetomo, suara-suara antipenjajahan telah muncul di berbagai media cetak. Orang-orang Cina peranakan menerbitkan surat kabar, majalah dan karya sastra. Bahkan karya sastra kaum Cina peranakan itu telah beredar sejak abad ke-19. Karya- karya sastra itu mereka tulis dalam bahasa Melayu Tionghoa dan Melayu Pasar atau bahasa Melayu Rendah.

Tulisan-tulisan yang muncul di berbagai media ini, dianggap tidak layak dan dicap bacaan liar oleh pemerintah Hindia Belanda. Bacaan-bacaan itu dianggap bertentangan dengan politik penjajah disamping kualitas bahasanya yang rendah. Berdasarkan kenyataan inilah, pemerintah Hindia Belanda menerbitkan bacaan yang layak bagi kaum pribumi.

Terbentuklah Commissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi Bacaan Rakyat) tanggal 14 September 1908 berdasarkan keputusan Departemen van Onderwijs en Eeredienst no.12. Beranggotakan enam orang, komisi yang diketuai oleh G A J Hazeu ini bertugas memilih bacaan yang sesuai untuk rakyat Hindia Belanda.

Awalnya, komisi Bacaan Rakyat (KBR) ini hanya menerbitkan bacaan ringan dengan harapan bacaan tersebut dapat merangsang minat baca tetapi kemudian berkembang lebih luas. Ada buku-buku cerita rakyat, hikayat, dongeng, hingga buku-buku terjemahan novel berbahasa Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, juga Arab. Karena penduduk Hindia Belanda sebagian besar beragama muslim, maka muncul buku-buku tentang Islam seperti Masdjid dan Makam Doenia Islam.

Terbitnya novel-novel barat dalam bahasa Melayu secara langsung berpengaruh terhadap penulis pribumi. Karya-karya lokal pun mulai menggunakan gaya penulisan barat. Salah satu roman yang menonjol saat itu adalah roman berbahasa Sunda berjudul Baroeang Ka Noe Ngararo (Racun Bagi Kaum Muda) karya D K Ardiwinata tahun 1914. Setelah itu muncullah berbagai buku tentang ketrampilan, pertanian, tanaman, teknik, pendidikan, juga kesehatan.

KBR menerbitkan semua bukunya dengan bahasa baku yang menggunakan ejaan van Ophuijsen, bahasa yang digunakan di sekolah Melayu. Bahasa yang digunakan sekolah-sekolah dan komisi ini dikenal pula sebagai bahasa Melayu Tinggi yaitu bahasa yang dianggap baru yang tata bahasanya ditetapkan para ahli bahasa termasuk van Ophuijsen (perancang ejaan bahasa Melayu tahun 1901).

Karena jumlah penerbitan yang semakin membengkak dan memerlukan sumber daya manusia yang lebih banyak, pemerintah Belanda merasa perlu mengembangkan KBR yang dianggap sukses itu menjadi institusi tersendiri. Pemerintah kemudian mengeluarkan keputusan No. 63 tanggal 22 September 1917 tentang pembentukan Kantoor voor de Volkslectuur yang dipimpin oleh Hoofdambtenaar. Lembaga ini kemudian dikenal dengan nama Balai Poestaka hingga saat ini. Lembaga ini dipimpin oleh D.A. Rinkes.

Dipilihnya D.A. Rinkes yang sebelumnya merupakan sekretaris komisi memimpin lembaga ini tidak lepas dari kerja kerasnya. Selama dua tahun KBR hanya mengumpulkan naskah-naskah yang dianggap layak untuk diterbitkan. Pada tahun 1910, komisi itu mulai meningkatkan kegiatannya ketika Rinkes diberi wewenang untuk mengendalikannya. Komisi itu mulai merekrut sejumlah ahli bahasa Jawa dan Sunda untuk menerjemahkan berbagai karya asing ke dalam dua bahasa daerah itu. Dalam enam tahun KBR berhasil menerbitkan 153 judul buku.

Di bawah Rinkes, Balai Pustaka (BP) mulai mengembangkan sayapnya dengan menerbitkan berbagai bacaan dalam bahasa Melayu dan daerah. Di tahun pertamanya saja, BP telah menerbitkan puluhan buku. Selain buku, BP juga menerbitkan majalah secara berkala yaitu Sri Poestaka yang terbit tahun 1918 yang awalnya berisi pengetahuan sosial dan teknik.

Lima tahun kemudian, muncul majalah mingguan Pandji Poestaka yang disukai pembaca hingga sempat terbit dalam dua kali seminggu pada tahun 1926. Kini BP mulai berbenah diri setelah pemerintah membuka kesempatan kepada penerbit manapun untuk menerbitkan buku-buku pelajaran sekolah. BP yang sempat memonopoli penerbitan buku-buku sekolah kini akan mengembangkan diri pada penerbitan karya sastra.

Sejumlah karya sastra mulai dicetak ulang baik dalam edisi biasa maupun edisi premium. Termasuk rencana mencetak dalam edisi bahasa Inggris. Sebanyak delapan karya sastra era Pujangga Baru, Sultan Takdir Alisyahbana, dan 45 dicetak dalam edisi premium. Cetakan baru ini diharapkan bisa membangun kembali karya sastra Indonesia yang namanya pernah berkibar.