Pulau Bali identik dengan pantai indah, surfing, dan banyaknya pura yang menjadi tempat sakral untuk sebagian besar masyarakat Bali. Namun Bali bukan cuma pantai Kuta dan pantai indah lainnya.

Di Pulau Dewata itu tersimpan sebuah tempat yang penuh keheningan, kedamaian, dan ketenteraman. Tempat itu adalah Desa Ubud yang merupakan kawasan wisata di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali.

Desa Ubud kental dengan kearifan lokal. Seni dan tradisi, pemandangan hijau dari sawah, lembah, hutan serta sungai yang terpelihara, menawarkan suasana khas yang berbeda dengan destinasi wisata lainnya di Bali.

Kawasan ini telah terkenal sejak 1930 ketika seorang pelukis Jerman, Walter Spies, dan pelukis Belanda, Rudolf Bonnet, mengunjungi tempat ini. Mereka menetap di Ubud untuk waktu yang lama dibantu oleh Cokorda Gede Agung Sukawati dari Puri Agung Ubud. Sekarang karya mereka bisa dilihat di Museum Puri Lukisan, Ubud.

Selain sebagai desa seniman, Ubud juga menawarkan panorama dengan sawah-sawah hijau dan cantik sungai. Jelajahi hidden paradise atau keindahan tersembunyi Ubud dan sekitarnya termasuk Tegal Alang, Sungai Ayung, dan Monkey Forest.

Ubud, BaliFoto: Warta Kota/Alex Suban

Berlibur ke Ubud menjadi pilihan tepat untuk mencari keheningan. Bukan berarti menyepi tanpa aktivitas apa pun. Ada galeri lukisan dari Museum Antonio Blanco sampai Puri Lukisan, ada pasar Ubud untuk berbelanja atau Sungai Ayung untuk berarung jeram.

Bagi para wisatawan yang mencari keheningan dan kedamaian menikmati indahnya alam Ubud, tersedia berbagai vila, resor dan destinasi. Salah satu tempat yang menyanjikan pesona Ubud adalah resor The Royal Pita Maha di Jalan Kadewatan, Ubud.

Resor seluas 14 hektare milik keluarga Puri Ubud ini punya nama besar di dunia. Lokasinya berada di Desa Kedewatan Ubud, Bali. Tjok Gde Raka Sukawati, Bupati Gianyar Bali, yang juga adalah Dosen Ekonomi di Universitas Udayana Bali, di balik keindahan yang agung The Royal Pita Maha.

Pita Maha memiliki arti “sinar yang agung”. Pemilik resort adalah seorang Undagi (sebutan untuk arsitek tradisional Bali). Tak ayal, begitu memasuki kawasan The Royal Pita Maha, Anda bisa menikmati kekayaan seni dan arsitektur khas Bali.

Arsitektur dan interior resort kental dengan sentuhan seni khas raja Ubud. Ornamen dalam bangunannya pun masih dipertahankan yang asli. Resor ini berdiri tahun 2004.

Menenteramkan
Selaras dengan namanya, The Royal Pita Maha menawarkan pengalaman relaksasi dalam nuansa agung bak tinggal di istana kerajaan. Dikelola oleh keluarga keturunan raja Ubud, resort ini menyediakan 52 private villa, dengan fasilitas private pool. Privasi di setiap villa menjadi ciri khas utama pelayanan The Royal Pita Maha.

Tidak hanya fasilitas resor yang memanjakan wisatawan, juga pelayanan para karyawan resor ini yang member kenyamanan dengan kehangantan keluarga. Kenyamanan yang menenteramkan ini lahir dari tiga prinsip utama keluarga Puri Ubud.

Tiga prinsip itu bernama Tri Hita Karana, yakni konsep leluhur yang menjaga keseimbangan antara manusia-manusia, manusia-alam, dan manusia-Tuhan.

Konsep leluhur ini diwujudkan dalam berbagai sisi The Royal Pita Maha. Resort ini fokus pada keseimbangan. Suasana khas Ubud, Bali melekat kental di Royal Pita Maha, tak terlupakan. Keseimbangan juga terlihat pada tata ruang resort. Sejauh mata memandang, bunga, dedaunan, pepohonan hijau membuat suasana hati senang.

Wajib buka jendela
Betapa segarnya bangun di pagi hari, bangkit dari tempat tidur, langsung memandang hijaunya dan lebatnya alam pengunungan. Tak hanya mata yang dimanja, begitu membuka jendela, segarnya udara pegunungan dapat dihirup dan membanjiri paru-paru.

UbudFoto; Warta Kota/Alex Suban

Para tamu bisa menikmati pemandangan lepas ke lembah. Dengan membuka pintu kaca di depan tempat tidur, kolam renang privat dengan kedalaman 1,5 meter telah menunggu. Benar-benar mengasyikkan berenang sambil memandang lembah dan hutan. Di dalam tiap vila juga tersedia bathub berukuran besar dengan pemandangan langsung menuju pepohonan hijau.

Berkeliling di kawasan resor juga menjadi salah satu kegiatan yang menarik. Dari ruang restoran utama di resor itu, pengunjung dapat menikmati pemandangan lembah dengan Sungai Ayung sebagai dasarnya.

Deretan vila, kolam renang utama, kolam pemandian air pegunungan dan restoran berundak-undak sampai ke bawah. Menuruni lereng bukit di resor itu juga menjadi aktifitas yang menarik.

Resor ini berada di puncak bukit, sementara vila-vila berada di lereng-lereng bukit, kolam renang utama berada di lereng yang lebih rendah. Kawasan bangunan utama itu terdiri dari tiga tingkatan. Untuk menyusuri kawasan itu pengunjung dapat berjalan sampai ke tepi Sungai Ayung.

ubudFoto: Warta Kota/Alex Suban

Jalan setapak berbentuk tangga tersedia sampai ke tepi sungai. Di sepanjang perjalanan kesegaran udara di Ubud dan hijaunya taman dan perbukitan memanja para pengunjung.

Bila pengunjung malas berjalan kaki untuk menyusuri lereng bukit, tersedia lift untuk turun ke bawah. Di pintu lift cuma tertera lantai 1 dan lantai 2, namun lift yang berdiri seperti menara itu setinggi 15 meter.

Setibanya di lembah deretan vila juga berjajar rapi. Berbeda dengan vila-vila di lereng bukit, vila ini menawarkan keheningan yang dihiasi dengan suara deburan Sungai Ayung.

Di kawasan sisi Sungai Ayung, terdapat kolam pemandian yang bersumber dari mata air di kawasan itu. Kolam itu dikelilingi dengan tembok dan pintu gerbang ornamen Bali. Selain taman yang asri, di sisi Sungai Ayung juga terdapat restoran dengan menu makanan organik dan arena yoga yang terbuka menyatu dengan alam.

Bersantai di restoran atau duduk berjemur di kursi-kursi panjang di sisi sungai menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Membuai pikiran dan batin untuk beristirahat.

Asal Nama Ayung

Bagi penduduk setempat, sungai Ayung memiliki kisah dan berkesan keramat.
Sungai Ayung berasal dari kata Ayu. Menurut cerita rakyat di Bali, di zaman dulu ada seorang maha resi bernama Maha Resi Markandea yang tinggal mencari ketenangan di Pura Besakih.
Suatu hari, ia berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat seorang wanita cantik bak bidadari yang tengah mandi di sungai.
Sejak itulah nama sungai menjadi Sungai Ayu yang oleh masyarakat Bali dieja dengan kata Ayung.

ubud

Sungai Ayung punya tempat tersendiri di hati warga Ubud. Begitu pun bagi wisatawan lokal dan internasional.
Sungai Ayung merupakan destinasi favorit untuk kegiatan rafting. Anda bisa leluasa menikmati pemandangan hijau dari lembah, pepohonan, dan kegiatan rafting.