Jakarta, Wisatakotatoea.com

Tiga puluh lima tahun lalu, Presiden Asosiasi Astronomi California Utara (Astronomical Association of Northern California), Doug Berger, memelopori sebuah kegiatan memasyarakatkan astronomi.
Dia sengaja memasang beragam teleskop di kawasan publik. Intinya, berbagi pemandangan indah tentang alam semesta. Dari sana, keingintahuan warga tentang astronomi pun berkembang.

Hingga kini upaya Berger terus berkembang dan selalu diperingati tiap tahun sebagai Hari Astronomi, hari di mana publik, penggemar astronomi, dan para profesional, bisa bertemu melalui berbagai kegiatan.

Penentuan Hari Astronomi agak unik karena tiap tahun selalu diperingati setiap Sabtu antara pertengahan April dan pertengahan Mei, saat fase bulan sebelum atau pada saat seperempat awal. Tahun 2008 ini, fase bulan itu jatuh pada pekan lalu, 10 Mei.

Untuk memperingati Hari Astronomi itu, tak ada salahnya kita menengok kembali ke belakang, ke sejarah observatorium pertama di Batavia. Sekadar mengingatkan, astronomi atau ilmu bintang disebut sebagai cabang ilmu pengetahuan tertua.

Ilmu ini mencoba menyingkap rahasia dan sejarah alam semesta melalui pengamatan dan penjelasan kejadian di luar bumi dan astmosfernya. Ilmu ini mempelajari asal usul, evolusi, sifat fisik, dan kimiawi benda-benda yang bisa dilihat di langit dan di luar bumi.

Semula, astronomi hanya memerlukan pengamatan dan ramalan gerakan benda di langit yang bisa dilihat dengan mata telanjang seperti yang selalu dilakukan manusia berabad lampau. Di Indonesia, astronomi modern dibawa oleh pelaut-pelaut Belanda di abad ke-17, Pieter Dirkszoon Keyser dan Frederick de Houtman.

Lebih dari 150 tahun kemudian, pendeta Belanda kelahiran Jerman yang menaruh perhatian pada bidang astronomi, Johan Maurits Mohr, mendirikan observatorium pertamanya di Batavia pada 1765. Ya, observatorium pertama sudah ada di Batavia di Abad ke-18. Observatorium Bosscha yang begitu kita kenal saat ini, baru mulai dibangun pada 1922.

Adalah peristiwa transit Venus, yaitu peristiwa ketika Venus melintas di antara Bumi dan Matahari, di tahun 1761, yang memicu Mohr membangun observatorium pertama di Batavia tersebut. Robert H van Gent, dalam makalah berjudul Observations of the 1761 and 1769 Transits of Venus from Batavia (Dutch East Indies) menyebutkan, Mohr membantu Gerrit de Haan, kepala departemen pemetaan di Batavia dan Pieter Jan Soele, kapten kapal VOC, mengobservasi transit Venus pada 6 Juni 176.

Mereka menggunakan dua reflektor Gregorian dengan focal length 45,72 cm dan 68,58 cm. Gent menulis, pengamatan tersebut dilakukan dari sebuah lahan super luas di dekat pantai di luar Batavia.

Lenyap

Ketika mengetahui pada 1769 Venus kembali akan transit, Mohr segera merancang pembangunan observatorium yang representatif pada masanya. Maka dibangunlah gedung setinggi lebih dari 24 meter di lahan luas di pinggir Molenvlie. Tahun 1765 pembangunan dimulai dan selesai pada 1768. Observatorium itu menjulang, menjadi gedung paling tinggi pada masanya.? ?

Bicara ihwal keberadaan observatorium Mohr di masa kini, ada baiknya menilik lokasi aslinya yang kini ada di Jalan Kemenangan Raya (Petak Sembilan), Jakarta Barat. Nama Gang Torong pun hingga kini masih digunakan untuk nama gang yang dipercaya sebagai lokasi peneropongan bintang milik Mohr itu.

Selain nama gang tadi, tentu saja, bekas-bekas observatorium itu sudah ratusan tahun lalu lenyap.
Pada masa ketika rumah sekaligus observatorium Mohr masih berdiri bagaikan menara (toren), kawasan ini bernama Torenlaan. Toren dilafalkan warga lokal sebagai torong jadilah Gang Torong. Gang Torong cukup tenar setidaknya sering disebut dalam koran lokal di masa tersebut.

Dalam lukisannya, Johannes Rach merekam situasi kawasan di sekitar observatorium Mohr. Yaitu bahwa letaknya tak jauh, persisnya di sebelah kanan belakang, dari wihara Kim Tek I atau Jin de Yuan atau orang Indonesia melafalkan sebagai Cin Te Yen. Dalam bahasa Indonesia, Vihara Dharma Bhakti. Lokasi bangunan Mohr itu kini berubah menjadi perkampungan padat di dalam gang.? ?

Sementara itu, sejarah observatorium itu hanya tersisa dalam bukti lisan yang kebanyakan masih tertulis dalam bahasa Belanda. Dalam bukunya, Gent menceritakan, Mohr meninggal dunia pada Oktober 1775. Lima tahun kemudian, gempa bumi mengguncang Batavia dan memporakporandakan observatorium Mohr.

Untungnya, jauh sebelum gempa terjadi, janda Mohr, Anna Elisabeth van’t Hoff, sudah menjual peralatan astronomi yang dimiliki mendiang suaminya ke Johannes Hooijman, penggagas Bataviaasch Genootschap.

Setelah tergoyang gempa dan kemudian ditinggalkan selamanya oleh Anna van’t Hoff pada 1782, bangunan observatorium itu terlunta-lunta begitu saja. Hingga 1809 tercatat masih digunakan sebagai kantor, kemudian barak tentara, sebelum akhirnya dirobohkan. Catatan terakhir pada 1844, gedung itu hanya bersisa pondasi. Sedangkan peralatan astronomi yang pernah digunakan Mohr, masih tersimpan di beberapa museum di Belanda.