Jakarta, Teras Indonesia

Warung Bebek Goreng H Slamet cabang Kartosuro-Solo, warung makan yang satu ini spesialisnya pada bebek yang digoreng setengah garing. Dagingnya begitu empuk dan sangat terasa bumbunya. Bahkan tulangnya begitu crispy seperti makan keripik saja.

Sebelumnya, bebek diungkep dulu cukup lama dengan bumbu agar empuk dan bumbu lebih meresap. Hasilnya adalah bebek yang garing , empuk dan sama sekali tidak amis. Bumbunya sampai terasa ke dalam daging. Bahkan kulitnya enak untuk dimakan karena selain garing, gurih juga sudah cukup bersih dari bulu-bulu bebek.

Ternyata untuk mendapatkan keempukan daging bebek ini yang dipilih bukanlah jenis bebek muda, tapi bebek yang sudah tua, berumur sekitar 1,5 tahun dengan berat 1,5 kg. Jenis bebeknya bukan bebek pedaging melainkan bebek alas yang dipelihara di alam bebas.

“Justru dengan memakai bebek yang tua, dagingnya keras dan cocok dengan rempah-rempah yang kami buat. Kalau menggunakan bebek muda akan membuat dagingnya hancur,” ujar Arif Rochman (33), pemilik warung bebek yang membuka cabang di daerah Joglo, Jakarta Barat ini.

Dalam perebusannya pun harus menggunakan suhu diatas 60 derajat celcius dengan tungku batu bara. Prosesnya memakan waktu kurang lebih 3 jam.

Untuk suplai bebek, Arif mengaku mendapatkannya dari daerah Bogor, Tangerang, dan Brebes. Bebek yang dikirimkan merupakan bebek yang dipotong pada hari itu juga. Dirinya mengaku tidak pernah menggunakan bebek beku, karena bebek yang sudah lebih dari 6 jam tidak langsung diolah maka baunya tidak enak.

Seluruh bagian bebek dipakai, termasuk juga cekernya. Awalnya bingung juga, tidak pernah terbayangkan sebelumnya kaki bebek bakal dilahap juga. Tapi saat dicoba ternyata enak juga dan sangat empuk. Seperti layaknya makan ceker ayam.

Menurut Arif, porsi ceker bebek ini cukup laku keras, terutama dikalangan anak-anak mahasiswa yang memesannya. Cuma untuk digado saja tanpa nasi. Seporsi ceker bebek hanya Rp 5.000. Sedangkan untuk paha dan dada Rp 15.000-Rp 16.000 per potong dan satu ekor utuh Rp 65.000.

Warung bebek ini buka dari jam 11.00 hingga habis. Hal tersebut disesuaikan dengan persediaan bebek yang ada. Jika bebeknya hanya sedikit maka dengan cepat warung tersebut akan tutup. “Pernah suatu ketika kita hanya punya 18 ekor dan dalam waktu 2 jam habis dan kita tutup dengan cepat,” tuturnya sambil tersenyum.

Sambal korek
Dalam menyajikan bebek goreng ini mereka punya satu sambal andalan yaitu sambal korek. Mereka membuat di cobek kecil jadi tidak dibuat secara masal. Cabe rawit warna merah, hijau, putih ditambah bawang putih di ulek agak kasar kemudian diberi minyak jelantah bekas gorengan bebek. Rasanya memang mantap pedasnya, beberapa orang mengatakan yang membuat bebek goreng ini enak untuk disantap adalah sambal koreknya.

“Sambal ini gratis lho, mau tambah beberapa kali boleh saja. Ini juga sebagai layanan tambahan untuk para pelanggan,” ujar pria yang sebelumnya pernah bekerja di salah satu produsen makanan ternama ini.

Selain sambal, warung makan ini juga memberikan lalapan gratis. Berupa timun, kemangi dan rebusan daun pepaya. Jangan khawatir dengan rasa pahitnya, karena pahitnya hilang. Rahasianya, ketika direbus daun pepaya itu dicampurkan dengan ampu, sejenis tanah liat yang diambil dari daerah Yogyakarta.

Tapi adakalanya pelanggan tidak suka dengan daun pepaya yang tidak pahit. “Biasanya pelanggan yang satu ini akan telepon pada pagi hari untuk memesan daun pepaya pahit dan melahapnya begitu saja dengan bebek dan sambal tanpa nasi, serta minum kunyit asam,” ujar Arif.
 

Warung Bebek Goreng H Slamet

Jl. Joglo Raya No. 11, Jakarta Barat
Telepon: 58908010

Jl. Panjang No. 9, Kebon Jeruk
Jakarta Barat
Telepon: 5330640
Buka: 11.00 sampai habis